Pendidikan.
Sekolah. Belajar. Mengajar. Sejak saya menyandang profesi GURU, yang kata orang
merupakan PAHLAWAN TANPA TANDA JASA, saya memandang kata-kata tersebut secara
berbeda. Pendidikan bukan sekedar kegiatan yang membuat siswa dari TIDAK TAHU
menjadi TAHU, tetapi juga seharusnya pendidikan merupakan proses yang
mengajarkan bagaimana cara belajar dan mengajak siswa menikmati prosesnya.
Thank God for technology. Istilah ini
sering diungkapkan seseorang, paling tidak saya sendiri sering mengungkapkan
ini, ketika berada pada satu titik kesadaran bahwa sungguh teknologi
mempermudah hidup manusia. Apalah daya saya tanpa teknologi? Dalam profesi saya
sebagai guru, saya sering kali mengalami Technology
Moment ini.
Saya merupakan
seorang guru TK di sekolah berstandar Nasional Plus yang menggunakan Bahasa
Inggris sebagai bahasa pengantar. Pada awal tahun mengajar, saya menemukan
banyak sekali kesulitan yang tidak dapat saya temukan solusinya di dalam
buku-buku berbasis psikologi atau pedagogi. Training dan pengetahuan memang
sudah banyak, akan tetapi ternyata problematika yang ditemui di dalam kelas jauh
lebih banyak daripada segala sesuatu yang sudah dituturkan oleh Jenkins, Erikson,
Freud, dan rekan rekan sejawatnya di dalam buku-buku sakti mereka. Singkat
cerita, ternyata Om Google mampu
menjawabnya.
Di internet, ada
begitu banyak rekan guru serta institusi pendidikan dari seluruh dunia yang
membagikan pengalaman, dan solusi mereka dengan cara yang sangat menarik. Dari
mulai free printable worksheet, creative
activity, video, DIY for kids, art and craft for kids, classroom management
kit, dan masih banyak yang lainnya. Modal yang saya butuhkan sebagai guru yang
sedang kesulitan hanyalah seperangkat komputer, printer, mesin fotokopi, lem gunting, dan beberapa alat lainnya
untuk mewujudkan apa yang mereka bagikan di internet. Kabar baiknya adalah
modal yang saya butuhkan adalah perlengkapan standar yang seharusnya memang dimiliki
sekolah. Bisa dikatakan bahwa senjata pamungkas saya dalam mengisi tahun-tahun
mengajar saya adalah keberadaan internet yang menyediakan ribuan bahkan jutaan
informasi dan ide bagi semua guru. Saya memilih kata informasi dan ide, karena
terkadang apa yang kita butuhkan memang tidak terjawab secara eksplisit di
dalam website-website, tetap dibutuhkan kreatifitas sebagai guru untuk
memodifikasi sajian informasi dan ide menjadi jawaban dari permasalahan yang dihadapi
guru atau bahkan siswa.
Dalam 2 tahun
terakhir, mengajarkan siswa TK saya menghitung kelipatan 5 (count by 5) merupakan tantangan tersendiri. Mereka telah mengerti
secara konsep, bahwa menghitung kelipatan lima adalah cara untuk mempermudah
proses penghitungan banyak objek. Akan tetapi, konsep tersebut bisa
diaplikasikan dengan cepat ketika mereka sudah lancar dalam melafalkan
penghitungan kelipatan 5. Saya dan rekan guru saya menemukan sebuah video yang
mudah diterima anak serta memiliki nada lagu menyenangkan. Berikut videonya :
Dari video ini,
siswa dapat melatih kemampuan mereka untuk menghitung kelipatan 5 dengan mudah.
Mereka memiliki rasa antusias yang lebih dibandingkan ketika saya hanya
menggunakan papan tulis dan spidol. Berikut kegiatan siswa saya dalam
menyanyikan lagu yang terdapat dalam video :
Di kesempatan lain lagi, saya mengajarkan siswa untuk menulis angka dalam kata-kata (number words) dengan menggunakan video yang dapat membantu mereka mengingatnya dengan mudah, hanya dengan menyaksikan video ini selama satu minggu berturut-turut.
Berikut ini kegiatan siswa ketika ikut menyanyikan Number Words RAP.
Tidak hanya memanfaatkan video, tapi ada juga contoh modifikasi pemanfaatan informasi yang saya aplikasikan seperti di sini.
Dalam pengalaman
saya berselancar di dunia internet, saya tidak hanya menemukan fakta menyenangkan. Ada sebuah fakta sedih yang saya temukan, yaitu sedikitnya jumlah informasi yang dibagikan dari guru Bahasa Indonesia. Indonesia
kekurangan sumber blog dan video anak yang baik untuk dijadikan referensi
pengajaran. Ketika saya mencari ide dari internet, kata-kata yang saya gunakan
memang kosakata Bahasa Inggris karena informasi yang menggunakan Bahasa
Indonesia sangat sedikit sekali. Bahkan ketika saya dengan sengaja mencari
bahan untuk pengajaran Bahasa Indonesia, sulit mendapatkannya. Harapan saya
adalah pemerintah kita akan menggali potensi-potensi anak negeri untuk
memajukan pendidikan anak Indonesia. Mengadakan lomba membuat video animasi
cerita rakyat, gambar (clipart) anak
Indonesia, blog informatif, merupakan salah satu hal baik untuk ‘memancing’
bakat-bakat tersembunyi di negeri ini. Sepertinya usul ini bisa disampaikan dengan lebih mudah sekarang. Semoga dengan mengirimkan SMS kepada
Bapak Anies sebagai Menteri Pendidikan Dasar mengenai hal ini, cita-cita saya dapat
terwujud J
Saya percaya Tuhan
memberikan manusia kemampuan untuk menciptakan dan bakat untuk mengelola
teknologi untuk tujuan-tujuan yang baik. Teknologi informasi dan komunikasi
yang berkembang sekarang merupakan hak istimewa yang kita dapatkan sebagai
manusia jaman ini. Terutama kita sebagai guru yang memiliki tugas untuk
mendidik, sudah seharusnya kita melakukan hal-hal yang jauh lebih besar dan
bernilai dari para guru pendahulu kita. Dahulu mereka mengalami banyak
keterbatasan karena mereka kesulitan mendapatkan sumber pengetahuan yang luas,
kini kita bisa mendapatkannya dengan mudah. Guru harus mampu memperlihatkan
kepada siswa bahwa teknologi yang mereka temui dalam keseharian mereka
merupakan alat canggih yang dapat mengajarkan mereka kepada banyak hal baik;
bahwa pembelajaran dapat menjadi sangat menyenangkan. Jangan sampai siswa kita
jatuh dalam penyalahgunaan teknologi, karena mereka terlanjur memandangnya
hanya sebagai alat untuk bersenang-senang, bermain, dan aktif di media sosial.
Mari aktifkan penggunaan teknologi internet dalam pengajaran kita! J
No comments:
Post a Comment