Hi!

This blog is only a quick peek into my thought and I like to write, can't say I love writing after a bunch of my failure to against my laziness. Hopefully you enjoy your reading on my blog and I wish it will inspire you to do better than me. Have a blessed reading :)

Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

November 03, 2015

BERHENTILAH JADI GURU!

Ada dua ayat terkenal di dalam Alkitab mengenai profesi GURU :


Yakobus 3 : 1
Saudara-saudaraku, janganlah banyak orang di antara kamu mau menjadi guru; sebab kita tahu, bahwa sebagai guru kita akan dihakimi menurut ukuran yang lebih berat.
Markus 9 : 42
Barangsiapa menyesatkan salah satu dari anak-anak kecil yang percaya ini, lebih baik baginya jika sebuah batu kilangan diikatkan pada lehernya lalu ia dibuang ke dalam laut.
Kedua ayat ini bukanlah ayat yang menghibur hati, namun membuat TAKUT DAN GENTAR.

Ya! Kekristenan memandang profesi guru bukan profesi murahan yang dapat dilakukan semua orang. Kekristenan tidak meletakkan profesi guru sebagai profesi cadangan, yang dipilih karena sudah MENTOK. Kekristenan tidak menjadikan profesi guru sebagai profesi murahan, yang dikerjakan karena ingin bertahan hidup!


Akan tetapi apa yang ada saat ini begitu beragam, hingga membuat orang lain memandang profesi guru MUDAH dan RENDAH. O... bukan hanya orang awam yang beranggapan demikian! Si GURU sendiri pun memandang profesinya MUDAH dan RENDAH. Berapa banyak guru di zaman ini yang masih BERDOA meminta kekuatan bagi dirinya sendiri??

Berapa banyak guru di zaman ini yang masih MEMBACA lebih dari 1 buku dan membuka puluhan website untuk mempersiapkan pengajarannya??

Berapa banyak guru di zaman ini yang dengan rendah hati datang kepada rekannya untuk MENGAKU bahwa ia tidak mampu dan MENDENGAR masukan??

Berapa banyak guru yang mau menerima kritik dan masukan dari orang lain???

Masukan dari teman sejawat hanya indah ketika melakukan PTK!


MUDAH dan RENDAH, sebenarnya RENDAHAN lebih tepat. Tapi MALU pada diri sendiri untuk mengaku sudah mencap profesi sendiri sebagai profesi RENDAHAN.


GURU bekerja dengan BENDA HIDUP. MAKHLUK HIDUP, yang tidak hanya bernyawa, bertumbuh, bergerak, bernapas, NAMUN JUGA BERJIWA.

Setiap anak yang datang di HADAPANMU, BUKAN MAKHLUK HIDUP BIASA, BUKAN SESUATU YANG KAU SEBUT LIVING THINGS!


THEY ARE BEING NOT THING!

MEREKA BERHARGA DI HADAPAN TUHAN! KRISTUS MATI BAGI MEREKA!


Ketika guru kehilangan hati untuk mengajar, maka habislah mereka.

Ketika guru menggerutu, runtuhlah jiwa mereka.

Ketika guru tidak peduli, mereka hilang arah.

Ketika guru tanpa konsep kasih yang adil, mereka akan tumbuh menjadi perusuh tak berhati.


Jika sedemikian fatalnya, maka dimana MUDAHnya?? Maka dimana RENDAHnya??


Jika memang kau harus menyelesaikan tugas mengajarmu, karena sudah terlanjur tanda tangan kontrak, maka sekarang kuharap kau mengerti. Jalani sisa waktu itu dengan kesadaran, bahwa pekerjaan ini SULIT nan MULIA. Hidup terlalu indah jika bergerak karena motivasi SETIDAKNYA HABISKAN DULU HARI INI.


Jika MENGAJAR hanya untuk ISENG-ISENG, CARI NAFKAH, BERPETUALANG, JALAN-JALAN, atau apalah yang kau sebut sebagai alasannya. Berhenti sajalah, daripada kau menyampah!


Terima kasih untuk para guru yang sudah bekerja dengan hati yang takut dan gentar pula penuh iman.



#selftalk

November 21, 2014

SAYA BIANGNYA

Okay, setelah ikutan lomba menulis, yang saya belum tau hasilnya - tapi kayaknya kalah deh :p, saya jadi teringat kembali bahwa saya memiliki blog. Hmm.. that's my bad.

Hari ini saya menyelesaikan first assessment week, still there 2 weeks to go, tanpa kepala pusing atau tengkuk berasa ditarik-tarik. Tentu bukan karena saya semakin expert dalam mengajar, apalagi bukan karena kurcaci-kurcaci tersayang yang lagi kesambet dan tiba-tiba melaju pesat, melainkan karena suatu tamparan yang datang tak terduga

Tamparan yang tak terduga? ya iyalah! mana ada tamparan direncanain??
wis, tak jelasken dulu..

Beberapa waktu yang lalu saya ada meeting dengan tim K-3 (yang biasa disebut dengan TK-B, bisa juga TK 0 besar) dan Ibu kepala sekolah. Di dalam meeting tersebut, kami para guru mencurahkan keluh kesah dan pertanyaan seputar rapot kami yang unik (mau tau uniknya seperti apa? itu rahasia perusahaan..haha). 'Kebetulan' rapot tersebut memang sudah tidak bisa diubah lagi formatnya di tahun ini, sehingga saya bertanya, 'Lalu apa yang harus kami lakukan apabila banyak anak yang tidak bisa mencapai kompetensi A?'. Beliau pun menjawab, kira-kira begini, 'O.. tidak apa-apa, Ms. Memang kita kan tidak bisa memaksakan semua anak dapat mencapainya. Nilai saja apa adanya.'

Sebenarnya jawaban tersebut adalah jawaban yang klise *tengok kiri kanan, takut si ibu tersinggung* dan bukankah seharusnya saya sudah tau mengenai hal itu? Tetapi yang ada di kepala saya selalu bagaimana caranya agar siswa saya mencapai potensi maksimal (TUJUAN MULIA) hingga akhirnya (BERUBAH MENJADI) keinginan itu berubah menjadi, 'POKOKNYA GIMANA PUN CARANYA KAMU HARUS BISA!' (KEJAHATAN)
Fiuuuhhh.. dan dengan pikiran itu biasanya lahirlah sutrisno-sutrisno (aka STRESS) yang menyiksa saya dan kurcaci-kurcaci kocak saya.

Hari itu saya merasa tertampar, bagaimana mungkin ternyata selama ini yang menjadi pembuat masalah di kelas sesungguhnya saya sendiri dan bukan anak-anak?
setelah hari itu saya berubah. Harus diakui, saya merasa Tuhan memakai Ibu Kepsek saya untuk mengingatkan mengenai hal ini (ini hal langka, itulah kenapa saya bilang tamparan tak terduga).
Esoknya saya kembali ke kelas dengan pandangan yang berbeda. Memandang bahwa assessment adalah untuk menilai progress dan kompetensi anak bukan untuk memaksa mereka mencapai kompetensi tersebut hanya karena keegoisan saya sebagai guru.
Betapa seharusnya saya menilai apa adanya sesuai perkembangannya dan tidak membuat mereka stress, sedih, kuciwa karena tidak bisa sepandai murid lainnya.
Sejak Tuhan mengubahkan cara pandang saya melalui diskusi itu, hari-hari untuk meng-assess siswa tidak lagi menjadi hari yang menyiksa bagi saya dan kurcaci-kurcaci kocak saya.
Saya benar-benar bersyukur atas cara Tuhan mengingatkan saya, tak terbayangkan seberapa berat pertanggunganjawab saya di hari penghakiman nanti, kalau saya dibiarkan melakukan kesalahan ini kepada jiwa-jiwa kecil yang mendidik saya setiap hari.

Hmm.. Thanks to the Lord, Thanks to Ibu Kepsek, Thanks to K3 teachers.
Sorry kids for letting you down before :(

Sebagai wujud pertobatan saya, minggu ini, apabila saya mendapati mereka tidak mencapai kompetensi, kemudian wajah mereka sedih karena mereka tahu mereka tidak bisa, saya hanya mengatakan,
'It's okay. At least you try. That's what we need.'
Dengan begitu, si kurcaci senang, dan snow white pun senang :p
Jadi siapa sesungguhnya biang masalah dari assessment week? SAYA biangnya.
Puji Tuhan, saya sudah diubahkan. Bagaimana denganmu?

April 30, 2014

Consonant Blends for Kindergarten

Minggu lalu, saya dapat jatah untuk bikin lesson plan tentang consonant blend.
Topik ini tidak terlalu membingungkan karena sudah banyak sekali data di internet yang bisa bantu kita untuk mengajarkan topik ini. Tapi, dasar orang sifatnya gak pernah puas, saya mendapati bahwa tidak ada Free printable worksheet yang pas dengan keadaan kelas K3 saya.
Karna itulah saya membagikan ini, siapa tau ada rekan pengajar lainnya yang membutuhkan bahan seperti ini dan bisa menggunakannya FOR FREE. Siswa saya cukup menyukainya karna bentuk ICE CREAM  yang digunakan merupakan favorit mereka. Mereka menggunting, menempel, dan mewarnainya sesuka hati. Dimana letak asah kognitifnya? Setelah mereka menyulapnya menjadi es krim yang mereka inginkan, kemudian mereka membacanya :)

beberapa contoh hasil karya mereka :)


Rekan-rekan bisa mendapatkan worksheetnya disini. Semoga bermanfaat dan memberkati :)